Kamis, 10 September 2015

MENGAJAR DI TPQ



Membantu mengajar Di TPQ (Taman Pendidikan Al Qur’an )



Koordinator  : Moh. Isbat Syahidi
Anggota :
1.       Moh. Syaifuddin
2.       Lia uznifatul
3.       Yusup Chaerul Anwar
4.       Nikmatul Ilmi A
5.       Ria fika P.
6.       Fadhillatul Khumairoh

Pada usia dini adalah masa yang tepat untuk belajar Al Qur’an, dan Dalam hal pembelajaran Al quran, kita bisa mengelompokkan menjadi: pembelajaran membaca (dan menulis huruf) Al quran, pembelajaran untuk pemahaman Al quran, dan pembelajaran untuk pendalaman Al Quran. Untuk pembelajaran Membaca Alquran sendiri ada beberapa metode yang sudah terkenal, di antaranya: metode iqro’, metode SAS, metode tilawah, dan metode yang lain. Sekali lagi, penggunaan metode harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat, karena masing-masing metode memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri. Kali ini saya akan membahas satu tip sukses mengajar alquran dengan mengadopsi metode iqro’. Metode Iqro’ banyak digunakan di TPA (Taman Pendidikan Alquran) atau TPQ (Taman Pendidikan al-Quran). Metode iqro’ ini menggunakan model CBSA (Cara Belajar Santri Aktif), adopsi dari Cara Belajar Siswa Aktif, yang sebetulnya juga mengadopsi dari SAL (Student Active Learning).
Metode Iqra’ ini dilengkapi dengan buku Iqro’ teridri dari enam jilid. Karena buku ni memang dikhususkan untuk anak-anak yang belum tahu sama sekali dengan huruf alquran, maka pelaksanaannya terkesan sangat sederhana. Tapi justru dari kesederhanaan itulah metode ini efektif.
Adapun caranya adalah sebagai berikut: Jika di sekolah tidak tersedia buku-buku Iqro’ yang bisa dipegang oleh siswa, sebaiknya guru menyiapkan alatnya. Papan planel dan kartu huruf. Sama dengan pembelajaran membaca bahasa Indonesia untuk kelas I SD.
Kartu huruf tadi ditulisi dengan huruf hijaiyah dengan harakat fathah dahulu. Misalnya: A Ba Ta Tsa (huruf Arab) sampai selesai. Huruf-huruf yang diajarkan dapat ditempapelkan pada papan planel.
Karena jumlah huruf hijaiyah ada 28, maka guru dapat membagi waktunya. Diusahakan huruf-huruf yang sama motifnya diajarkan dalam waktu yang sama. Misalnya: ba ta tsa, ja ha kho, da dza, ra za, dan seterusnya. Tetapi ketika mengajarkan huruf kedua, huruf pertama harus tetap ditanyakan. Begitu juga ketika mengajarkan huruf ketiga, huruf pertama dan kedua harus tetap disinggung. Ini mengikuti kerja otak, bahwa semakin sering sesuatu dipikirkan, maka semakin kuat tertambat di dalam ingatan.
Untuk hari pertama cukup empat huruf saja, yaitu A Ba Ta Tsa. Ingat, pemberian pelajaran sebaiknya menggunakan fragmentasi, tidak langsung empat huruf. Minimal ada lima fragmen. Pertama, kenalkan huruf “A” (Alif berfathah). Tapi guru tidak perlu menyebutkan itu alif berfathah. Cukup katakana saja “A”.
Disediakan beberapa huruf, siswa secara acak disuruh mengambil huruf-huruf yang disebutkan oleh guru. Setelah siswa tadi berhasil mengambil huruf yang diminta guru—yang meminta untuk mengambilkan huruf boleh juga siswa lain, siswa tadi disuruh mengucapkannya keras-keras. Misalnya siswa disuruh mengambil Ja.
Setelah menemukan Ja, siswa mengucapkannya keras-keras “Ja” sambil menunjukkan huruf “Ja” tadi ke seluruh kelas. Cara ini sekaligus melatih keberanian siswa, dan meningkatkan pemahamannya terhadap huruf Alquran. (Catatan: kalau cara ini digunakan, maka kartu huruf dibuat lebih besar, misalnya pada jertas kuarto).
Perlu juga dipahami, mengajar anak kecil itu ibaratnya mengukir di atas batu. Sulit, dan lama. Tetapi ketika batu itu sudah terukir, sulit juga dihilangkan ukirannya itu. Lain kalau kita mengajar orang dewasa. Cepat dan mudah. Namun orang dewasa juga lebih mudah melupakan apa yang baru saja dipelajarinya itu. Ibaratnya: mengukir di atas air. Anda mudah menggerakkan tangan di atas air, tapi begitu selesai, bekas gerakan tangan Anda tadi langsung hilang, kan?
Selain itu, perlu juga diingat: siswa harus selalu dalam keadaan fun ketika belajar. Belajar itu butuh konsetrasi. Anak harus fokus pada pelajaran agar mereka berhasil.
Sayangnya, daya tahan konsentrasi siswa hanya sebanding dengan usianya. Jadi misalnya siswa itu berumur tujuh tahun, maka daya tahan konsentrasinya ya hanya sekitar tujuh menit. Oleh karena itu mengajar anak-anak kecil harus sering-sering memberikan variasi (misalnya melalui permainan atau semacamnya).
Variasi yang lain. buat rap. Misalnya kita mengenalkan huruf A Ba Ta Tsa tadi. Rap-nya disusun seperti ini: A A Ba, Aku suka baca. Ba Ba A Aku baca Alqurna. Begitu setrusnya, guru bisa menusun kalimat-kalimat rap ini sekaligus untuk memotivasi mereka agar suka membaca Alquran.
Variasi yang lain: buat lagu. Dulu ketika saya sekolah di madrasah diniyah, saya sering menggunakan nadhoman untuk menghafal tauhid, tajwid, sharaf dll. Itu benar-benar memudahkan. Membaca huruf Alquran ini juga bisa dilakukan dengan lagu. Tentunya lagu sesuai dengan umur anak, jangan sulit-sulit lagunya
DOKUMENTASI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar